Rabu, 13 Oktober 2010

Teori-Teori Belajar dan Implikasinya dalam Pembelajaran

A. Teori Behavioristik
1. Pelopor dan Teori Belajar Behavioristik
Tokoh behaviorisme antara lain: JB. Watson, Thorndike, dan BF. Skinner. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia sebagai hasil pembentukan melalui lingkungan. Oleh karena itu, pendidikanpun dianggap sebagai pembentuk perilaku manusia. Sedangkan Thorndike berpendapat bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap (incremental) daripada karena hadirnya insight (pemahaman). Artinya belajar itu melalui langkah-langkah kecil yang sistematis daripada sebuah lompatan besar.
2. Belajar menurut Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori ini perilaku merupakan hal-hal yang dapat diamati, dan terbentuk dengan adanya ikatan asosiatif antara stimulus dan respon (S-R). proses belajar terjadi dengan adanya tiga komponen pokok, yaitu; stimulus, respond an akibat. Stimulus adalah sesuatu yang dating dari lingkungan yang dapat membangkitkan respon individu. Respon merupakan jawaban atas stimulus. Sedangkan akibat merupakan dampak setelah seseorang merespon stimulus.
Reinforcement (penguatan) menjadi prinsip utama dalam memperkuat lekatnya hasil belajar pada diri seseorang. Akibat yang positif dan dapat memberikan kepuasan akan diperkuat oleh individu, tetapi yang tidak memberikan kepuasan akan dihindari oleh individu.
3. Implikasi Teori Belajar Behavioristik dalam pembelajaran
Proses pembelajaran yang sejalan dengan paham behavioristik menekankan akan pentingnya keterampilan dan pengetahuan akademik maupun perilaku sosial sebagai hasil belajar. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akademik. Pendekatan ini menekankan pada ketuntasan penguasaan terhadap apa-apa yang dipelajari.

B. Teori Humanisme
1. Belajar menurut Teori Belajar Humanisme
Teori ini memandang bahwa perilaku manusia ditentukan oleh dirinya sendiri, faktor internal dirinya dan bukan oleh kondisi lingkungan. Menurut humanisme, aktualisasi diri merupakan puncak dari perkembangan individu. Menurut humanisme, motivasi belajar harus dating dari dalam diri individu. Menurut teori ini, salah satu karakteristik yang harus ada pada guru adalah kemampuan memotivasi belajar siswa. Selain itu, guru harus memiliki sikap empati (emphatic), terbuka (open mindedness), keaslian (genuineness), kekonkretan (concreteness), dan kehangatan (warmth).
2. Implikasi Teori Belajar Humanisme dalam pembelajaran
Pandangan humanisme terhadap pembelajaran sudah memberikan penataan terhadap peran guru. Guru berperan sebagai fasilitator dan bukan sebagai pusat pembelajaran. Proses pembelajaran diarahkan pada perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor. Siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan kesadaran identitas dirinya.

C. Teori Kognitif
1. Belajar menurut Teori Kognitif
Teori belajar kognitif berpandangan bahwa proses belajar pada manusia melibatkan proses pengenalan yang bersifat kognitif. Menurut pandangan ini cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak. Tokoh utama teori ini adalah Jean Piaget. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif menjadi; a) tahap sensori motor (0-2 tahun), b) periode praoperasional (2-7 tahun), c) periode operasional kongkret (7-12 tahun), d) periode operasional formal (12-15 tahun).
2. Implikasi Teori Belajar Kognitif dalam pembelajaran
Dari aliran psikologi kognitif, teori Piaget lebih banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Piaget, belajar tidak harus selalu berpusat pada guru, tapi anak harus lebih aktif. Oleh karena itu anak dibimbing supaya aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekuensinya, guru dituntut untuk mampu menyiapkan materi yang akan dipelajari menjadi menarik dan menantang untuk siswa terlibat dalam proses pembelajaran.

D. Teori Belajar Konsep
1. Belajar menurut Teori Konsep
Konsep ialah suatu abstraksi mental dari pengalaman-pengalaman responsif terhadap stimulus-stimulus. Dimensi konsep menurut Flavell ada tujuh, yaitu (a) atribut, (b) struktur, (c) keabstrakan, (d) keinklusifan, (e) generalitas/keumuman, (f) ketepatan, dan (g) kekuatan (power). Seseorang memperoleh konsep melalui formasi konsep dan asimilasi konsep. Formasi konsep merupakan proses pembentukan konsep secara induktif. Sedangkan asimilasi konsep merupakan proses yang terjadi secara deduktif.
Tingkatan pencapaian konsep menurut Klausmeier (Dahar, 1996:88), yaitu;
a. Tingkat Kongkret
b. Tingkat Identitas
c. Tingkat Klasifikasi
d. Tingkat Formal
2. Implikasi Teori Belajar Konsep dalam pembelajaran
Dalam pembelajaran yang berbasis konsep ada 2 langkah, yaitu penemuan konsep yang diajarkan dan perencanaan pembelajaran yang menjcakup penentuan tingkat pencapaian konsep dan analisis konsep. Dalam pembelajaran konsep perlu diperhatikan langkah yang akan dilakukan, yaitu 1) menyangkut penentuan tingkat pencapaian konsep. Ini didasarkan pada tuntutan kurikulum, perkembangan peserta didik dan tingkat kepentingan konsep, dan 2) analisis konsep, menyangkut nama, atribut-atribut kriteria dan variable, definisi, contoh-contoh dan hubungan konsep dengan konsep lainnya.


E. Belajar Bermakna
1. Belajar menurut Teori Bermakna
Ausubel mengklasifikasikan belajar ke dalam 2 dimensi, yaitu; materi atau informasi yang diterima oleh siswa, dan bagaimana cara seseorang mengaitkan informasi yang diterima dengan struktur kognitif yang telah ada. Apabila informasi yang diperoleh dihubungkan dengan struktur kognitif yang telah ada, maka terjadilah apa yang disebut dengan belajar bermakna. Kebermaknaan suatu pembelajaran sangat dipengaruhi oleh struktur kognitif yang telah ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan waktu tertentu. Dahar (1996:116) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajar bermakna, yaitu (1) materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial, (2) anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna.
2. Implikasi Teori Belajar Bermakna dalam pembelajaran
Dalam penerapan teorinya pada proses pembelajaran Ausubel menawarkan beberapa implikasi, yaitu advance organizer, diferensial progresif, belajar superordinat dan penyesuaian integrative.
Daftar Pustaka
Sutardi, D., Sudirjo, Encep. (2007). Pembaharuan dalam PBM di SD. Bandung: UPI PRESS.

Tidak ada komentar: